Beranda 

Cerita Akademisi Indonesia Jadi Anggota Kehormatan Lembaga Riset Oxford

Akademisi asal Indonesia, Idhamsyah Eka Putra, baru-baru ini diangkat menjadi anggota kehormatan Visiting Research Fellow di salah satu pusat penelitian di University of Oxford. Namanya pun sudah masuk di website resmi lembaga tersebut: http://cric-oxford.org/idhamsyah-eka-putra/.

Bang Idham, begitu teman-teman Indonesia banyak memanggilnya, menceritakan asal mula dirinya masuk sebagai anggota kehormatan tersebut. Hal itu dimulai dengan perkenalannya dengan Profesor Harvey Whitehouse di awal tahun 2017.  

“Profesor Harvey adalah Direkur Institute of Cognitive and Evolutionary Anthropology (ICEA) dan co-founder dari Centre for the Resolution of Intractable Conflict (CRIC) yang basisnya di University of Oxford. Jadi kisahnya dimulai dari seorang kolega, Susilo Wibisono dari Indonesia yang sedang menempuh studi S3 di University of Queensland. Susilo ini mengontak saya atas rekomendasi dari Karel Karsten, mahasiswa S3 di UQ yang sudah cukup kenal dengan saya. Melalui Susilo-lah saya diperkenalkan oleh Harvey Whitehouse, profesor Antropologi sosial di Oxford University yang sedang mencari kolabotor dari Indonesia yang mendalami Psikologi Sosial,” papar Bang Idham. 

Bang Idham mengaku awalnya agak bingung apa sebabnya seorang Antroplog ingin bekerjasama dengan Psikolog Sosial. Namun, setelah ia mengunjungi website Harvey, ia menemukan bahwa Harvey banyak memiliki anggota tim Post-doctoral yang memiliki dasar Psikologi Sosial.  

 “Dari situlah akhirnya saya mulai berkolaborasi dengan Harvey, terutama sekali meneliti kaitan identitas sosial, pandangan keagamaan, dan perilaku ekstrem,” ringkas Idham yang bergelar Dr. phil.  

Setelah berkolaborasi dengan Harvey dan menemukan kecocokan dari pengalaman itu, Bang Idham juga dapat memahami mengapa Harvey banyak memiliki tim peneliti. Menurut Idham, untuk seorang profesor, Harvey adalah profesor yang sangat rendah hati, suportif, dan benar-benar peduli dengan rekan-rekan lainnya. 

“Setelah berkolaborasi dengan Harvey, baru saya mencoba mengecek lebih dalam lagi mengenai aktivitasnya. Dari sinilah kemudian saya menemukan, selain direktur di ICEA, dia juga co-founder CRIC. Lalu saya menulusuri CRIC dan ternyata ini adalah pusat studi yang baru dibuka tahun 2013,” kata Bang Idham. 

Menariknya, lanjut Bang Idham, di dalam CRIC ada tokoh-tokoh yang sering menjadi rujukannya dalam studi-studi berkenaan dengan terorisme dan radikalisme. Di antaranya Jeremy Ginges profesor di New School University; dan Scott Atran, Direktur Riset lembaga ARTIS.   

“Karena tertarik dengan keberadaan CRIC, lalu saya bertanya lebih lanjut mengenai CRIC. Nah, saat bertanya tentang CRIC ini Harvey menyadari bahwa CRIC membutuhkan partner yang memiliki prestasi riset dan publikasi yang bagus tentang isu-isu kekerasan ektstrem dan konflik antarkelompok terutama di sekitar Asia Tenggara,” lanjutnya.  

Bang Idham yang di Indonesia mengajar S2 dan S3 di Universitas Persada Indonesia, dan menjadi dosen tamu di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), mengatakan Harvey melihatnya sebagai orang yang dianggap sangat kredibel yang bisa dimasukkan ke dalam tim peneliti di CRIC.  

Di samping itu, Harvey juga ingin memberikan apresiasi kapada Idham karena Harvey merasa memiliki pengalaman yang bagus saat berkolaborasi dengan Idham.  

“Akan hal ini, Harvey menyampaikan idenya ini ke saya. Lah, saya namanya orang hanya memiliki pengalaman meneliti di Indonesia dan tidak pernah bekerja sebagai akademisi di kampus-kampus di luar negeri, ditawari hal seperti itu ya seperti mimpi di siang bolong. Apa iya benar ini tawaran yang serius? Respons saya tentu saja, jika memang Harvey serius, saya pasti akan senang sekali menjadi bagian tim akademisi di kampus yang diketahui sebagai salah satu kampus terbaik di dunia,” Idham mengisahkan.  

Karena hal ini, Harvey kemudian berbicara kepada dua co-founders lainnya mengenai kemungkinan dimasukkannya ia di dalam tim peneliti CRIC. Direktur CRIC yang juga co-founder, Lord John Alderdice sangat senang dengan saran dan ketertarikan Harvey memasukkan Idham dalam lingkar CRIC sebagai peneliti. 

Sebagai anggota kehormatan, Bang Idham memang tidak bekerja secara full time. Karena saat ini ia ada riset kolaborasi dengan Harvey berkenaan dengan Religion and Morality, hingga beberapa bulan ke depan sebagai bagian dari aktivitasnya.  

“Di samping itu saya dianggap sebagai partner atau kolaborator utama untuk studi-studi yang berurusan dengan konflik dan kekerasan, terutama sekali pada kejadian-kejadian yang muncul di Indonesia atau wilayah-wilayah Asia Tenggara lainnya. Jadi jika ada tim CRIC lainnya yang tertarik dengan isu-isu di Asia Tenggara, sayalah orang yang akan dimintai saran dan masukan,” ujar Idham yang dalam tiga tahun belakangan ini sibuk dengan riset yang disebutnya rehumanization project.  

Riset rehumanization project, kata dia, lebih mengedepankan bagaimana jika periset bisa mengarahkan manusia untuk memercayai bahwa manusia adalah baik dan bagaimana ini bisa berdampak pada hubungan antarkelompok. “Studi ini sudah saya uji beberapa kali di Indonesia, dan sekali di Amerika. Kedepannya, saya juga tertarik menguji ini di Inggris,” lanjut Idham. 

Ia menyebutkan bahwa Harvey juga tertarik dengan ide riset ini dan senang sekali untuk membantu. “Menjadi VRF di CRIC ini tidak ada kewajiban untuk saya untuk stay tiap hari di Oxford atau di Inggris. Yang penting adalah saya bisa membantu pada studi-studi yang sudah saya sebutkan tadi. Begitu kira-kira,” tutur Idham.   

Kontributor: Any Rufaedah 

Editor: Kendi Setiawan

Sumber: https://nu.or.id/post/read/114649/pengalaman-akademisi-indonesia-jadi-anggota-kehormatan-periset-asal-oxford

Kategori

Berita

Tanggal

19 Desember 2019

Author

DASPR

Bagikan