Riset

Beragam program riset hasil kolaborasi DASPR dengan peneliti lain

Family Resilience
 

Laporan akademis terdahulu menunjukkan peningkatan keterlibatan peran yang dimainkan oleh keluarga dalam upaya melakukan aksi terorisme, sebagai bentuk dukungan pada aksi kekerasan yang dilakukan oleh teroris dan mempersuasi paham radikal kepada keluarga dan komunitas mereka. Kondisi ini menciptakan lingkaran, terjadinya radikalisme dan kekerasan karena dikonstruksikan dari waktu ke waktu.

Pada kondisi dimana suami ditahan karena menjadi tersangka aksi terorisme, keluarga mereka tentu perlu mendapatkan perhatian. Istri sebagai pasangan, anggota keluarga paling dekat relasinya, dan sekaligus merupakan pihak yang paling rentan terhadap apapun dampak aksi terorisme yang dilakukan suami mereka. Bisa dibayangkan ketika suami mereka terlibat di dalam aksi pidana ini dan mesti berurusan dengan polisi sehingga dapat berimbas pada perjalanan hidup keluarga mereka yang semula utuh, namun saat ini menjadi pincang. Keadaan inilah yang menjadi alasan DASPR mengadakan program riset dan intervensi yang dinamakan Family Resilience Program yang melibatkan keluarga para narapidana terorisme. Program ini diupayakan untuk mendorong keluarga, istri secara khusus untuk melakukan reintegrasi dan kembali berdaya, serta sebagai upaya deradikalisasi dan disengagement.

Baseline Studi Terhadap Kelompok Pengungsi di DKI Jakarta dan Banten (Kolaborasi Dengan Daya Insani dan IOM)

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan dan menjaga kesehatan mental para pengungsi dan pencari suaka dengan kerentanan selama proses migrasi yang aman, manusiawi dan tertib, selama transit di Indonesia. Studi ini memberikan pemahaman yang komprehensif terhadap profil populasi pengungsi. Data dikumpulkan melalui survei, observasi dan wawancara mendalam. Studi ini juga berfungsi sebagai alat untuk mengeksplorasi perspektif setiap elemen termasuk pemangku kepentingan dari staf IOM dan relawan terkait. Proses akuisisi data dilakukan dengan campuran metode kuantitatif dan kualitatif.

Daya Insani adalah Konsultan Psikologi dan Hipnoterapi. Daya Insani didirikan pada tahun 2004 oleh individu-individu yang percaya setiap manusia memiliki keunggulan potensi diri mereka sendiri, yang mungkin belum terungkap dan / atau dibina dengan baik, atau belum memiliki kesempatan untuk mewujudkannya, atau mungkin konsekuensi dari kehilangan kepemimpinan persepsi dan kepedulian lingkungan sosial.

IOM adalah organisasi antar-pemerintah terkemuka dalam bidang migrasi. Ia bekerja erat dengan mitra pemerintah, organisasi antar pemerintah, dan non pemerintah. IOM bekerja untuk mendorong praktik migrasi yang tertib dan manusiawi, mempromosikan kerjasama internasional dalam isu migrasi, membantu menemukan solusi praktis terhadap isu migrasi dan menyediakan bantuan kemanusiaan bagi kelompok yang membutuhkan, termasuk bagi pengungsi dan pengungsi internal.

(Re-) Humanisasi
 

Kami memulai sebuah proyek bernama (re-) humanisasi dimana hal itu dipengaruhi dari gagasan tentang bagaimana mengubah orang menjadi “baik”. Melalui pengalaman kami bertanya kepada orang-orang apakah kodrat manusia itu baik atau jahat, Kebanyakan orang percaya bahwa kodrat manusia itu baik. Namun demikian ada perdebatan filosofis tentang hakikat manusia. Jean-Jacques Rousseau (1712 – 1778) Percaya bahwa manusia pada dasarnya baik meskipun kebaikan ini dapat terkontaminasi melalui kekuatan luar. sebaliknya, Thomas Hobbes (1588-1679) menyatakan bahwa sifat manusia itu jahat: keinginan alami manusia adalah untuk mendapatkan lebih banyak kekuatan. Meskipun demikian, meski terus-menerus diperdebatkan mengenai hakikat manusia, diharapkan kepada ketika orang diingatkan bahwa sifat manusia itu baik, mereka akan melihat orang lain dengan cara yang lebih positif. bersama Peter Holtz (Leibniz-Institut für Wissensmedien), Ardiningtias Pitaloka (Universitas Yarsi) dan Nurul Arbiyah (Universitas Indonesia), kami menguji apakah dengan mengingatkan peserta bahwa kodrat manusia adalah baik, bisa mengurangi efek negatif dari stigmatisasi. Bekerja sama dengan Johanna Vollhardt (Clark University), Margareth Obaid (Framingham State University), dan Shino Koda (Tottori University) kami menguji hubungan kepercayaan bahwa sifat manusia itu baik dengan nilai-nilai prososial vs. pembenaran atas kekerasan identitas Manusia Bhinneka Tunggal Ika dan prasangka buruk di Indonesia Amerika Serikat dan Jepang.

Prasangka dan Meta-Prasangka

Meta-Prasangka yang diperkenalkan oleh Idhamsyah Eka Putra menjelaskan bagaimana berpikir atau meyakini orang lain (secara negatif) berpikir (keluar/masuk) anggota kelompok lain. Mekanisme berpikir ini telah terbukti memainkan peran kunci dalam mempengaruhi persepsi dan perilaku yang mengindikasikan: 1) seseorang cenderung menghindari anggota kelompok lain ketika mereka berpikir anggota kelompok luar tidak menyukai mereka, atau 2) ketika mereka berpikir sesame anggota kelompok tidak menyukai anggota kelompok luar. Tim peneliti termasuk Wolfgang Wagner (Johannes Kepler University & University of Tartu).

Gerakan Keagamaan, Hubungan Antar-Agama dan Persekusi

Kami telah terlibat dalam beberapa proyek yang menyelidiki gerakan keagamaan dan hubungan antar-agama di Indonesia. Selama Pemilu 2012 di Jakarta, kami menyelidiki bagaimana narasi agama digunakan untuk memobilisasi pemilih untuk merendahkan dan membenarkan kekerasan terhadap berbagai kelompok agama dan etnis yang berbeda. Bekerja sama dengan Wolfgang Wagner (Johannes Kepler University & University of Tartu), kami melakukan wawancara terhadap umat Islam yang terlibat dalam “Aksi Damai” tahun 2012 yang mengakibatkan pertumpahan darah dengan kekerasan. Unjuk rasa diadakan di tengah pemilihan gubernur DKI Jakarta, melawan seorang petahana Non-Muslim yang dituduh menghina Al-Qur’an. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengunjuk rasa cenderung tidak mendukung kekerasan ketika para pemimpin politik mempromosikan narasi damai. Sedangkan tuduhan penistaan meningkatkan dukungan pengunjuk rasa untuk kekerasan politik. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan politik memainkan peran penting dalam membentuk norma-norma sosial dan menjaga hubungan antar kelompok yang harmonis. Tim peneliti yang ikut serta dalam penelitian ini antara lain Any Rufaedah (DASPR), Reisa S. Arimbi (DASPR), M. Faisal Magrie (DASPR & US-AID Indonesia). Dalam proyek lainnya kami bekerja bersama Peter Holtz (Leibniz-Institut für Wissensmedien) dan Ali Mashuri (Universitas Brawijaya) untuk menyelidiki bagaimana sebuah kelompok agama yang dituduh sesat akhirnya menerima ancaman dan sejumlah reaksi kekerasan dimana para korban dianggap sebagai yang menyebabkan terjadinya kekerasan.

Fundamentalisme Agama dan Perilaku Ekstrim
 

Anggota kami telah menangani banyak isu yang berkaitan dengan hubungan antara fundamentalisme agama dan perilaku ekstrim, serta cara mengatasi kerentanannya. Bersama dengan Zora Sukabdi (Swinburne University of Technology), kami bekerja untuk menemukan cara bagi para fundamentalis agama (Islam) untuk mendukung perdamaian. Kami juga bekerja sama dengan Whinda Yustisia (Universitas Indonesia), Harvey Whitehouse dan Chris Kavanagh (Oxford University) untuk menguji peran narsisme kolektif dan ketaatan kelonggaran (tightness-looseness) dalam mempengaruhi hubungan antara fundamentalisme agama dan perilaku ekstrim. Tim peneliti tersebut terdiri dari Any Rufaedah dan Vici S. Putera (DASPR).