Pada Minggu, 27 Juli 2025, Masjid Al-Husna menjadi saksi sebuah pertemuan yang penuh makna. Sebanyak 40 perempuan, mayoritas istri dari mantan narapidana terorisme, berkumpul dalam kegiatan “Kajian Bulanan Resiliensi Keluarga” yang diinisiasi oleh DASPR dan Yayasan FKAAI, bekerja sama dengan Yayasan Al-Husna dan Genzi, serta didukung oleh Densus 88. Kegiatan ini membawa tema besar “Resiliensi Keluarga: Memperkuat Peran Keluarga dalam Proses Rehabilitasi dan Reintegrasi.”
Sejak awal, kegiatan ini dirancang bukan sekadar ruang silaturahmi, melainkan wadah belajar yang aman, empatik, dan mendalam. Istri-istri mantan napiter kerap menghadapi stigma, prasangka, serta beban psikologis yang berat. Mereka juga harus mengelola trauma anak sekaligus menopang kehidupan rumah tangga. Dalam situasi seperti itu, kajian ini hadir sebagai oase yang memberi energi baru.
Salah satu peserta menyampaikan bahwa materi tentang komunikasi suami-istri sangat bermanfaat baginya. Ia merasa mendapatkan pemahaman baru bagaimana berkomunikasi secara jujur dan sehat dengan pasangan, sehingga konflik rumah tangga dapat diminimalisir. Peserta lain menekankan betapa pentingnya materi tentang penanganan trauma anak. Banyak dari mereka menghadapi anak-anak yang sulit tidur, sering cemas, atau bahkan menghindari interaksi sosial setelah ayah mereka ditangkap. Melalui materi kajian, mereka belajar teknik sederhana seperti pernapasan, pijatan ringan, dan tapping untuk menenangkan anak.
Hasil evaluasi memperlihatkan dampak nyata. Dari 31 orang yang mengisi pre-test dan post-test, terjadi peningkatan rata-rata skor dari 80 menjadi 84,8. Meski median tetap pada angka 90, peningkatan ini menunjukkan adanya penyerapan materi yang cukup baik. Bahkan ada peserta yang mengalami peningkatan signifikan hingga 50 poin. Data ini menjadi bukti bahwa ruang belajar seperti ini memang relevan dan dibutuhkan.
Keberhasilan kegiatan ini juga terlihat dari antusiasme peserta. Dari 26 orang yang mengisi survei evaluasi, 21 peserta menilai materi sangat jelas, sementara 20 orang menilai isinya sangat relevan dengan kebutuhan mereka. Hampir semua peserta menyebutkan bagian yang paling bermanfaat adalah seputar peran istri, komunikasi keluarga, dan penanganan trauma anak.
Lebih dari sekadar angka, yang paling menyentuh adalah cerita-cerita pribadi. Sebagai fasilitator dan juga pendamping dari beberapa peserta yang hadir, saya sadar bahwa selama ini kadang istri merasa sendiri menghadapi stigma lingkungan. Namun setelah mengikuti pendampingan dari DASPR maupun FKAAI, para istri menemukan komunitas yang menguatkan dan menyadarkannya bahwa perjuangannya bukanlah beban pribadi semata, melainkan bagian dari perjalanan kolektif.
Kegiatan ini menorehkan kesuksesan tidak hanya karena terselenggara dengan baik, tetapi juga karena memberi dampak nyata: menguatkan kapasitas istri, memperkuat ikatan di antara keluarga, dan menumbuhkan harapan baru bahwa reintegrasi bisa berjalan lebih sehat. Ke depan, peserta berharap kajian serupa terus berlanjut, bahkan melibatkan suami dan kegiatan untuk anak-anak lebih terarah, sehingga seluruh keluarga dapat tumbuh Bersama.
Kajian Bulanan Resiliensi Keluarga di Masjid Al-Husna adalah bukti bahwa perubahan dimulai dari ruang-ruang kecil yang penuh empati. Dari sinilah, keluarga mantan napiter membangun kembali kehidupan, melangkah dengan lebih percaya diri, dan menghadirkan harapan bagi masa depan yang damai.
Penulis: Erni Kurniati